Mencuci Sepatu

September 23,2020. Saya berusia 34 tahun sekarang, sudah setahun pindah ke Tangerang dari Padang. Sudah 7 bulan tidak keluar dari daerah ini karena virus corona. Dan siapa pula yang sangka kalau saya akan menulis lagi di blog ini. Menulis lagi karena katanya bisa jadi terapi. Semoga, karena saya merasa mulai kehilangan diri sendiri belakangan. 

Pagi saya dimulai dengan mencuci sepatu. Dua pasang sepatu dan dua pasang sendal tepatnya. Saya jarang mencuci sepatu dan sendal, hanya bila ada noda yang menimbulkan bau atau terlihat jelas. Tapi pagi ini saya putuskan untuk mencucinya. Butuh tiga puluh menit untuk menyikat, mencuci lalu menjemur ke empat pasang alas kaki tersebut. Saya butuh tiga puluh menit itu untuk berlalu, di antara 24 jam yang belakangan saya lalui dengan kegelisahan dan pikiran yang melanglang buana, terlalu bebas. 

Beberapa hari lalu, seorang kenalan bertanya kabar saya. Pertanyaan yang tidak saya sangka karena biasanya kami hanya berbagi stiker whatsapp bertema BTS atau video editan nista lucu BTS. Saya ingin menjawab seperti biasa "I'm OK. Just stay at home, you know, the virus situation". Tapi entah kenapa saya menjawab dengan kesadaran bahwa saya tidak baik-baik saja. Saya merasa terkurung selama 7 bulan dalam pikiran sendiri karena saya tidak bisa pergi kemana saya ingin dengan bebas. Karena saya tidak bisa bekerja seperti biasa. Karena kadang pada satu saat saya merasa kalut karena tidak tau akan jadi bagaimana hidup ini. Entah kenapa saya bisa lancar memberitahunya. Mungkin karena sesudahnya dia menjawab "I feel you". Karena dia juga terjebak di kostan nya di tengah kota Jakarta. Karena dia juga sedang meraba-raba situasi di sekitarnya. Entah lah, mungkin begitu.

Beberapa jam sebelum mencuci sepatu dan sendal itu, saya membaca pengalaman seseorang yang saya ikuti akunnya di twitter. Dia bercerita kalau akhirnya dia memutuskan mencari bantuan profesional kejiwaan karena keadaan ini sudah tidak mampu dihadapinya sendiri. She says it took a toll on her. Dia baru saja memulai karirnya sebagai freelancer tahun ini. Sama, saya juga, setelah akhirnya memutuskan resign dari pekerjaan yang baru dijalani 1,5 bulan. Saya sepertinya belum terlalu cocok dengan ritme ibukota, but it's for another story. Kembali lagi ke orang tersebut, dia memutuskan tidak menjadi karyawan purna waktu tentu bukan dengan alasan yang sama dengan saya. Katanya di awal dia hanya ingin jadwal yang longgar agar bisa menikmati waktu dalam bekerja. However, seems we have too many spare times now. And she said she can not stand the idle life. 

Pada satu waktu di akhir bulan Juli saya mempertimbangkan memulai kegiatan mengajar kembali. Sudah mengatur jadwal, memikirkan rute transportasi karena selama pandemi rute yang tetap beroperasi terbatas. Namun saya memutuskan untuk membatalkan sesi tersebut, dalam selang beberapa jam. Apakah saya paranoid? Rasanya tidak. Saya hanya tidak ingin menimbulkan tambahan kesusahan. Tidak ada yang bisa menjamin keadaan di luar sana, bahkan dalam rumah sendiri belakangan ini. 

Tentu ada banyak hal yang harus saya syukuri juga. Suami yang masih bekerja dan digaji seperti biasa. Tempat tinggal yang nyaman. Peliharaan yang semakin gemuk, dan banyak lainnya. But it seems I also can not handle the idle life. Need to keep moving,even for an inch. 


Comments

Popular Posts